• Bibit Cabai Prima Agrihorti Tabulampot
  • Beras Merah Inpari 24 Gabusan
  • Garci - Tea
  • Pakuwon Fertilizer 1 kg
  • Bubuk Kakao 200 gr
  • Kopi Robusta 200 gr
  • Kopi Rabita 200 gr
  • Kopi Arabica Pakuwon 100 gr
  • Benih Cabai Lingga
  • Benih Cabai Kencana
  • Bibit Jambu Deli Hijau Tabulampot
  • Bibit Sawo Manila Tabulampot
  • Bibit Belimbing Dewi Tabulampot
  • Bibit Jambu Biji Kristal Tabulampot
  • Benih Bayam Giti Hijau
  • Benih Pepaya Merah Delima
  • Choco Chips Mocaf kecil
  • Egg Roll
  • Mie Coklat
  • Tepung Ubi Ungu 500 gr
  • Tepung Sukun 500 gr
  • Pupuk Organik Mutiara TTP Cigombong
  • Benih Cabai Tanjung - 2
  • Beras Fitrice 2 kg
  • Tepung Talas Dus 250 gr
  • Tepung Pisang 500 gr
  • Tepung Nangka Dus 250 gr
  • Bagelen Ganyong
  • Soes Mocaf
  • Ayam KUB
  • Cocovine
  • DEHAF Obat Demam Berdarah
  • Feromon Exi
  • Garcia

PT. Biops Agrotekno Indonesia Gandeng Generasi Milenia Siap Melisensi Nano Biopestisida

Diposting oleh : Irwan
28 Mei 2019
Kategori : Info_Aktual - Dibaca : 198 kali

Verifikasi kelayakan calon mitra pelisensi teknologi Balitbangtan kembali digelar Tim Balitbangtan yang dikomandani Balai PATP.  Kali ini, verifikasi dilakukan terhadap PT.  Biops Agrotekno Indonesia pada Jumat, 24 Mei 2019 di Lentera  I_Farm, Kawasan Tugumukti, Cisarua, Bandung Barat. Verifikasi kelayakan dilakukan oleh tim Balai PATP,  Balittro dan Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian.

PT. Biops Agrotekno Indonesia merupakan perusahaan rintisan berbasis teknologi yang dibentuk untuk memberikan solusi bagi peningkatan nilai tambah produk pertanian. Perusahaan ini fokus pada agroindustri,  agroteknologi, dan pendidikan. Hal ini ditunjukkan oleh produk yang dihasilkannya berbasis pertanian sebagai bahan baku, serta merancang dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan pertanian . Selain itu, PT. Biops Agrotekno Indonesia juga menerapkan teknologi hasil riset-riset di kampus/perguruan tinggi. Sehingga tak heran jika perusahaan ini didominasi oleh generasi milenia alumni dan fresh graduate dari beberapa perguruan tinggi antara lain Institut Teknologi Bandung.

Bertolak dari fakta bahwa kondisi pertanian Indonesia sejak tahun 2003 hingga saat ini menunjukkan penurunan jumlah rumah tangga pertanian dan rumah tangga petani didominasi oleh Kepala Rumah Tangga berusia 45 tahun, padahal kebutuhan pangan diprediksi akan terus meningkat, menjadi salah satu latar belakang berdirinya PT. Biops Agrotekno Indonesia. Tiga tantangan utama di bidang pertanian yang sangat krusial harus segera dihadapi adalah terkait dengan irigasi, pupuk, dan hama penyakit. Saat ini perusahaan ini telah mengembangkan sistem irigasi pintar yang dapat menyiram tanaman secara otomatis sesuai dengan kebutuhan dengan sebuah alat,  sehingga dapat meningkatkan produktivitas,  menghemat waktu, serta menghemat air dan pupuk masing-masing sebesar 40%, 50%, dan 40%.  PT. Biops Agrotekno Indonesia juga sedang mengembangkan sensor dan kalkulator pupuk dan early warning system untuk serangan hama dan penyakit tanaman.

Ketertarikan PT. Biops Agrotekno Indonesia untuk melisensi  teknologi Balitbangtan "nano biopestisida" karena melihat tingginya kebutuhan pestisida di Indonesia dan pilihannya jatuh pada biopestisida. Nano biopestisida akan digunakan sebagai komponen input dari pestisida untuk teknologi sistem deteksi dini (early warning system) serangan hama dan penyakit tanaman, yang alatnya sedang dikembangkan perusahaan saat ini.

Rencananya, produksi nano biopestisida akan dilakukan oleh PT. Gelora Rempah Inti Indonesia (PT. Griin.id),  yang merupakan induk perusahaan yang membina PT. Biops Agrotekno Indonesia. PT. Griin.id telah memiliki pengalaman dalam memproduksi pemrosesan bahan alam.

Dalam pemaparannya, PT. Biops Agrotekno Indonesia berencana akan memproduksi  nano biopestisida sebesar 250 L per hari. Nano biopestisida nantinya akan dijual dengan 2 ukuran kemasan berbeda yaitu 500 mL dan 5 L.  Diversifikasi ukuran kemasan ini ditujukan agar dapat menyasar pasar yang lebih luas. Menurut perusahaan, pasar biopestisida di Indonesia pada tahun 2015, baru mencapai maksimum 5% dari total volume pasar pestisida Indonesia dan sebagian besar didominasi produk untuk mengendalikan bakteri. Sedangkan nano biopestisida sendiri merupakan pengendali beberapa penyakit dan serangga (di antaranya penyakit mosaik yang disebabkan virus pada tanaman nilam serta kutu daun sebagai vektor  virus), sehingga peluang masuk ke dalam pasar sangat besar. 

Tingkat ketertarikan penggunaan biopestisida ini telah dikaji, dimana jika efisiensi sepadan dengan pestisida kimia sintetik maka, sebanyak 97% petani tertarik menggunakan  biopestisida. Sebaliknya, jika efisiensi biopestisida 10-20% lebih rendah dari pestisida kimia sintetik, maka hanya 40% petani yang tertarik menggunakan biopestisida. Adapun target market produk nano biopestisida nantinya adalah petani yang telah mengendalikan biopestisida; petani yang menyadari dampak buruk pestisida kimia sintetik terhadap kesehatan; petani yang mulai merasakan penurunan efektivitas pestisida kimia sintetik; serta petani yang sedang melakukan perluasan lahan pertanian. 

PT. Biops Agrotekno Indonesia dalam pemaparannya juga menyatakan memiliki strategi penetrasi market,  yang dimulai dari pengumpulan database keberhasilan penggunaan biopestisida (field trial), melakukan  pendekatan dan pelatihan kepada Gapoktan dan para pengusaha pertanian, menjual nano biopestisida secara langsung maupun melakukan kontrak untuk demplot percobaan dengan sistem bagi hasil atau percobaan terbatas.

Harga jual nano biopestisida sendiri telah dianalisis dan dirancang oleh PT. Biops Agrotekno Indonesia. Harga tersebut ditetapkan tidak terlalu mahal dari pestisida kimia sintetik, namun juga tidak di bawah pestisida kimia sintetik. Sebagai gambaran yang disampaikan perusahaan, harga pestisida sintetik di pasaran mencapai Rp. 30.000/100 mL. Sedangkan harga pestisida nabati di pasaran mencapai Rp.  75.000/100 mL.

Berdasarkan hasil verifikasi, fasilitas produksi (bahan baku,  laboratorium, tempat prosesing dan penyimpanan) dan SDM di laboratorium untuk produksi nano biopestisida akan disupprot oleh induk perusahaan yang membina PT. Biops Agrotekno Indonesia,  yaitu PT. Griin.id. Sedangkan SDM di lapang serta marketing adalah SDM dari PT. Biops Agrotekno Indonesia. Untuk tempat dan sarana prasarana prosesing dan penyimpanan, serta administrasi (SITU, TDP,  Surat Pengukuhan Perusahaan Kena Pajak,  dan Surat Izin Produksi) telah diupayakan dan saat ini sedang dalam proses pengurusan.  SIUP, NPWP, dan SDM untuk Quality Control, produksi dan pemasaran telah siap. Perusahaan merencanakan akan mengambil bahan baku serai wangi di antaranya dari KP. Manoko milik Balitro, Puslitbangbun, Balitbangtan Kementan yang berlokasi di Bandung.


  (0251) 8382563

bpatp@litbang.pertanian.go.id

Alamat

Jl. Salak No. 22 Kode Pos 16151 Bogor, Jawa Barat - Indonesia

Faks: (0251) 8382567

Jam Kerja

Senin - Jumat : 08:00 s/d 16:00

Server process time: 0.0426 secs.
Hak Cipta © 2019 BPATP. Semua Hak Dilindungi.